ndokngcover

Tahun 2015 ini akhirnya saya dan yani kembali ke Maluku (lagi) waktunya sama dengan tahun lalu, memanfaatkan libur Hari buruh nasional.Tujuannya adalah Maluku Tengah  yaitu pulau Osi yang letaknya di Pulau Seram Barat dan pulau Saparua.

PULAU OSI

My Moon Daud Contact Person :  Pak Farmin 081343259972

Untuk menuju pulau ini kita harus ke desa Liang pelabuhan Hunimua kami dijemput dari bandara dengan jemputan yang sudah dicharter dari pak Farmin pemilik dari My moon Daud Resort di pulau Osi, harga charteran dari bandara ke Liang Rp.250 ribu mobilnya Avanza, Kapal Cepat dari Hunimua ke Waipirit berangkat 2 jam sekali jarak tempuh juga 2 jam’an – kami beli tiket ekonomi  harganya 40 ribu – berangkat pukul 9.00 pagi,setelah kami beli tiket kapal langsung berangkat. Tas kami yang sebesar lemari itu terpaksa di titip di ruangan menyimpan minyak di dekat pintu kapal, karena untuk masuk ruang tunggu di kapal  harus naik tangga kecil.

Pelabuhan Hunimua (photograph by Yani Siregar)
Pelabuhan Hunimua (photograph by Yani Siregar)

Karena kami lelah tidak terasa kami sudah sampai di pelabuhan waipirit , kami lupa menelepon bpk Farmin untuk menginstruksikan penjemputan, alhasil kami sempat merasa di bully di pelabuhan.  Lumayan banyak tukang taxi gelap yang menawarkan jasanya.

Kami sempat bingung ketika ditanya : Kalian mau kemana ke kiri atau ke kanan ( apa urusannya ya mau jalan ke kiri atau ke kanan tempat parkirnya luas begitu koq ) Ternyata belakangan setelah driver kami yang baik hati sampai dijelaskan kalau ke kiri artinya tujuan ke Saleman (pulau Ora ) kalau ke kanan ke Desa Piru ( Pulau Osi )

Sebelum melanjutkan perjalanan kami makan siang dulu di dekat pelabuhan

1

Sekitar jam 1  kami menuju desa pelita jaya, jalanan cukup bagus dan lancar. Sampai di desa tujuan  kami turun dari mobil dan

lanjut dengan Ojek selama 10 menit menuju penginapan My moon daud resort yang sudah kami pesan sebelumnya. Ternyata ada penginapan baru yang mirip dengan my moon daud, sepertinya competitor utama resort mymoon.

1q

jembatan kayu lumayan panjang. 10 menit kami sampai di resort dari gerbang masih harus jalan lagi sekitar  1 km ke

penginapan. Tukang Ojek yang membawa kami sangat handal, dengan lebar jembatan kira-kira 1,5 meter mereka stabil menjalankan motor diatasnya dan apabila ber papasan dengan motor lain dari arah berlawanan mereka mantap tidak goyah walaupun membawa kopor kami yang beratnya 17 – 20 kg di bagian depan motor.

1a

Bung ojek pulau osi sangat ramah tamah dan baik hati, kopor kami yang sebesar lemari dipanggul sampai ke kamar dan kami dapat berpoto2 ria di pintu gerbang

5

Jalan jembatan bercabang dua satu ke arah pulau Osi tempat penduduk Osi bermukim satu lagi ke arah penginapan my moon daud.

Disambut oleh Ani – pemudi ramah tamah asal pulau kasuari  kami dijelaskan bahwa per malam kami di charge 400 ribu untuk kamar, include breakfast diluar itu apabila ingin makan ikan akan dimasakan ikan terutama ikan bubara yang ada dibuat penakaran nya di belakang penginapan.

Dari 5 Kamar/cottege  yang tersedia, Kami diberi kamar no.2 kamarnya nyaman, ada AC, TV parabola (sayang yang tertangkap hanya MNC Tv dan Indosia) compelement 2 botol Aqua tiap harinya, kamar mandi bersih dan yang lebih penting adalah pemandangan di luar kamar ke arah laut dasyat sekali.

8 9

Lumayan juga suasana di dalam kamar, tapi kalau senang nyemil harus bawa sendiri karena kalau mau membeli makanan kecil agak jauh lokasinya harus ke desa Osi berjalan kaki kira-kira 10 menit.

11

Karena terlalu lelah non stop pulang dari kantor langsung ke bandara berangkat jam 11 malam mengudara, melaut dan perjalanan darat ber jam-jam plus makan siang yang nikmat kami langsung pulas tertidur sampai sore. Saat itu Mestakung (semesta mendukung) karena suasana super sepi, debur ombak sangat pelan suaranya terdengar, karena Osi terletak di semacam area teluk , ditambah lagi tamu di resort ini hanya kami berdua.

Sore hari kami dibangunkan oleh kak ani, yang menyakan mau makan apa malam ini, ada nya ikan bobara kami minta untuk di bakar saja plus sambal sayang disayang untuk sayuran harus order khusus karena agak sulit di dapat.

4 3

Malam jam setengah tujuh setelah selesai bersih-bersih kami menuju ke arah resto di resort – tempatnya lumayan luas ada TV layar besar Ibunda pemilik resort sedang asik menonton sinetron. Sambil menunggu kami pun terpaksa ikut menonton sinetron versi India yang ternyata digemari juga di daerah ini.

13

Karena tidak bisa kemana-mana dan signal yang kuat disini hanya telkomsel kami berdua mati gaya. dan ngobrol ngalor ngidul dengan 2 wanita lokal, Ibunda pak farmin dan Ani asisten nya sampai larut malam dan kami kembali ke kamar masing-masing.

Hari Ke 2 kami rencana akan ke pulau Marsegu 30 menit dari lokasi kami menginap. Sebelum berangkat kami bangun pagi melihat sunrise, tinggal melangkah keluar kamar, sunrise sudah tersedia, asli loh bukan sunrise minyak goreng.

Sunrise dari belakang kamar kami
Sunrise dari belakang kamar kami

Setelah puas jeprat jepret sunrise kami langsung berberes peralatan lenong untuk berangkat snorkling ke pulau marsegu tidak lupa memakai semua bedak, sunscreen dan lain-lain untuk proteksi dari sinar matahari yang cerah ceria saat itu. Sebelum berangkat kami sarapan pagi nasi goreng ala mymoon daud ditemani sinetron pagi dan gosip pagi dari TV

d c Selesai makan, kak ani belum juga tiba akhirnya kami jalan-jalan ke belakang penginapan dan melihat penakaran ikan disana  ikan bobara ikan napoleon dan lainnya.

Akhirnya kami berangkat agak siang jam 10 lewat dengan speedboat kecil karena kami ber dua dikemudikan oleh kak ani; harga sewa speedboat sampai marsegu bolak balik adalah Rp 300 ribu rupiah saja.

b

tidak lama kemudian kami sampai dipulau marsegu yang tak berpenghuni, namun sengaja dibuatkan tempat bersandar perahu untuk tamu2 yang mau snorkling

7

Pulau Marsegu ini tidak berpenghuni, rencananya memang dulunya akan dibangun tempat menginap disini, tapi karena kasus kerusuhan maka pembangunan terbengkalai, tersisa disitu ada 3 bangunan yg belum sempurna.

12 pantai marsegu  pasirnya masih putih dan underwater nya lumayan indah karang-karang masih alami dan berwarna warni, sayang nya karena dekat dengan lalulintas antar pulau maka banyak sampah2 terdampar di tepi pantai. Yani mencoba mengumpulkan sampah disekitar kami berteduh wah lumayan jenis hardcore sampahnya

a e

Selesai mandi-mandi dan cibang-cibung kami pulang ke resort untuk makan siang, dan sudah ditunggu dengan menu makanan istimewa :

glunchharganya Rp250 ribu 2,5 kg kami tidak menawar lagi karena harga itu sudah jauh sekali murahnya dibandingkan dengan harga di Jakarta.

Sorenya kami berjalan-jalan ke kampung Osi yang ternyata kebanyakan bukan berasal dari maluku tetapi dari daerah Buton – Sulawesi

g kp osi g kp osi2

Kampung nya cukup rapi dan bersih, namun taraf hidup masyarakat masih serba berkekurangan. Walaupun disini sering dipakai untuk daerah KKN namun terlihat sekali dana bantuan atau apapun itu dari pemerintah belum mencapai tempat ini secara maksimal.

f-hujan

Kamipun sempat mengalami hujan deras di sini, lampu mati dan kami mengobrol di depan pintu dengan beberapa pekerja di resort.  Dari mulai pacar sampai kerusuhan dan cari makan semua sudah terkorek dari mereka. Hari kami ditutup dengan menonton KDI  Lomba dangdut di MNC TV.

Pagi harinya kami langsung beres-beres untuk pulang dijemput oleh driver yang kemarin mengantar kami ke sini  kami menuju ke arah daerah Rumakay 2 jam perjalan untuk naik boat ke pulau saparua, di tengah jalan kami berhenti untuk membeli minyak kayuputih asli yang baru di proses.

1c

SAPARUA

Dari pelabuhan wailei  Menuju Saparua kami sudah booking hotel di Mahu Village Lodge – Kelapa Indah Villa di Kampung Mahu.  PIC :  Pak Paul 0811977232  atau Facebook : Mahu Village

Naik Boat lumayan cepat,  45 menit sudah sampai di Jetti Mahu Village

saparua1Serasa tamu dari kelas VIP  kami dijemput oleh private boat dari Mahu Village –  Pakai 2 motor sehingga lumayan cepat sampainya , dari kejauhan sudah terlihat  Jetty di  Kampung Mahu

Sampai di Jetty Mahu kami naik  ojek keliling-keliling kota Saparua melihat peninggalan2 kuno seperti benteng Duurstedee, Gedung Patimura dan lainnya, sore melihat pemandangan Sunset di Jetty tempat Pak Paul waduh indah sekali.

 

Sore hari kami ngobrol-ngobrol dengan pak Paul dan anak nya Johan  serta ada satu teman lagi pengunjung resort ini.  Pagi hari kami  keliling snorkling ke pulau-pulau sekitar, dan kembali kami terkagum-kagum dengan underwater disini yang indah dengan biota laut yang beragam

 

Selain  itu kami juga di ajak ke tempat pembuatan Sagu oleh Johan

Ternyata cukup rumit dan lama, dan sudah banyak pembuat tepung sagu yang beroperasi di sini tidak memproduksi lagi.

Akhirnya keesokan paginya kami pulang ke ambon. Selamat Tinggal Saparua kota yang dulu terkenal semoga satu saat akan harum lagi namanya