Sangat aneh bisa hilang sendiri postingan saya mengenai Banda ini.

Kepulauan Banda terletak di Maluku Tengah dengan ibu kota Masohi dan Kepulauan Kei terletak di Maluku Tenggara dengan Ibukota Tual Untuk ke 2 lokasi ini kita perlu minimal 10 hari : kami pergi mengambil keuntungan harpitnas di bulan Mei 24 Mei – 3 Juli (hanya potong cuti 5 hari )
Let’s Go to Banda City
Mencapai kota Banda dari Jakarta jadwal ter efesien bagi kita pelancong yang bekerja; paling cepat ya lewat udara,
kita bisa berangkat dengan pesawat terpagi dari jakarta Jam 00.10 hari sabtu dini hari; tiba di jakarta sekitar Jam 7-8 pagi tergantung pesawat transit atau tidak di makassar.
Di Ambon kita harus menginap sehari; Jarak bandara patimura dan kota Ambon memang agak lumayan jauh tapi taxi charteran banyak disana, menuju ambon bisa 30 menit

Untuk taxi carteran lebih enak  kalau dapat driver yang enak dan informatif  tapi tidak terlalu talkatif ini contohnya pak wempi  085284385687 ;  500 ribu per 12 jam cukup mengetahui keadaaan di kota Ambon

 

.photo 1

Menuju Banda sekarang hanya ada lewat laut sejak merpati berhenti beroperasi dan maskapai penggantinya NBA belum juga beroperasi sampai 2014 ini.

Jadwal KM Tidar setiap hari Minggu dari Ambon – Banda berangkat Minggu Sore (tergantung jadwal di Pelni kami akhirnya berangkat jam 19: 45 ) Tiket kapal kami beli di Jakarta tapi ternyata lebih oke beli di TKP ; berlayar selama 9 jam kami sampai di Banda pukul 8 pagi hari Senin.

photo 2

Kapal Pelni Banda menuju Ambon 4 hari kemudian yaitu hari Jumat pagi.

Kapal Pelni Tidar dibagi menjadi 4 Kelas
Kelas 1 (kamar dengan 2 tempat tidur ) harganya berkisar 350 ribu
Kelas 2 ( kamar dengan 4 tempat tidur ) harganya 300 ribuan
Kelas 3 (kamar dengan 6 tempat tidur ) harga 200 ribuan
Kelas ekonomi ( silakan pilih posisi sendiri /tidak ada kamar ) harga 100 ribuan
Lebih nyaman memang pilih kamar; selain barang bawaan aman kita juga bisa beristirahat .

1
kamar kelas dua ada 4 tempat tidur
WC nya  lumayan bersih tinggal di siram
WC nya lumayan bersih tinggal di siram

TIBA DI BANDA

Pagi-pagi kami tiba di Banda dan karena sudah membooking di Maulana Hotel maka  barang -barang kami dibawa turun oleh petugas dari Maulana,

Hujan tiba-tiba turun dan kami langsung berlari-lari ke hotel yang letaknya tidak jauh dari  Pelabuhan Banda

mau3

mau2

Ternyata hotelnya menghadap ke laut dan nyaman sekali, yang kami lihat banyak turis asing yang menginap dan semuanya naik kapal yang sama dengan kami

Pagi ini kami disuguhi pisang goreng kopi  sambil melihat kepergian kapal Tidar menuju Papua

IMG_3827

Kami langsung explore kamar dan kitar nya, dan ternyata di kota Bandanaira ini ada fasilitas wifi yang bisa di akses di sekitar pelabuhan., bissa beli vouchernya mulai dari 25 ribu – sampai 250 ribu

saya beli yang 100 ribu biasanya 2 hari langsung habis apalagi kalau akses Path upload photo.

Sore Hari kami leyeh-leyeh di hotel dan  mandi air panas di kamar mandi, disini ada TV juga loh jadi gak akan ketinggalan berita.

2

Tiba makan siang kami makan di hotel dengan tarif 80 ribu per orang

Menu di Maulana Hotel
Menu di Maulana Hotel

Sepertinya makannanya terlalu banyak buat kami yang berperut kecil hehehe tapi lumayan unik juga menunya

Disekitar hotel maulana ini pemandangan sangat indah, ada gunung api ,  laut yang jernih bahkan kita bisa lihat langsung di air ikan warna warni berenang-renang

mau4

photo 4 photo 5

Sore harinya kami berputar disekitar kota Banda, Melihat Museum, dan rumah-rumah peninggalan jaman belanda juga rumah tempat pembuangan Bung Hatta

Memang Bandanaira ini terkenal sebagai kota penuh sejarah. Ada juga gereja yang cukup besar disini konon sudah di renovasi pasca kerusuhan kursi-kursinya sudah baru

ada dibagian belakang pekarangan satu kursi bekas di bakar yang menjadi saksi bagaimana orang bisa berubah sejahat itu akibat dari provokasi.

Saksi sejarah kejahatan politik adu domba
Saksi sejarah kejahatan politik adu domba
gereja1
Gereja di tempat mayoritas muslim lambang kebebasan agama di Indonesia

Selain itu ada rumah budaya Banda naira menyimpan benda-benda bersejarah banda,

rumah budaya
Anak dari keturunan Des Alwi tokoh terkenal jaman Bung Karno berasal dari Banda

Banyak rumah-rumah berarsitektur belanda di Bandanaira ini, ada juga benteng-benteng peninggalan Belanda.  Satu masih terawat Benteng Belgica

Suasana Benteng Belgica
Suasana Benteng Belgica
Suasana Senja di depan hotel maulana
Suasana Senja di depan hotel maulana

 

Day 2 – BANDA

Kami menuju Banda Besar naik kapal pagi -pagi

suasana di pasar ikan
suasana di pasar ikan

cabe

Karena konon katanya hujan dan angin Timur sedang bertiup maka suasana laut tidak tenang, rencana kami untuk explore laut tidak bisa dilaksanakan

akhirnya kami guling-guling dikamar dan setelah itu sore kami bersunset di desa ujung pulau dekat bandara banda naira.

banda sore

Senja di Bandanaira
Senja di Bandanaira

 

Hari ke tiga kami baru bisa jalan-jalan naik  perahu motor ,  ber 8 kami jalan ke bawah gunung api lalu berputar ke Banda Besar sebentar  melihat perkebunan sayangnya hujan lagi

sehingga kami cuma sebentar di Banda Besar setelah hujan agak reda kami menuju ke pulau syahrir, arah berlawanan dari Banda besar 30 menit kami kehujanan di tengah laut

tapi syukurnya setelah sampai di pulau syahrir yaitu tempat pembuangan  pahlawan kita St Syahrir  cuaca cerah ceria sehingga kami bisa snorkling-snorkling ria dengan bebasnya.

renang
Suasana di kaki gunung api

 

Pulau syahrir sangat sepi, listrik pun hanya malam dengan genset, tapi pemandangan disini luar biasa biru sekali lautnya dan airnya jernih

 

DSCN0938

Ombak  dan hujan di perjalanan menuju pulau Syahrir
Ombak dan hujan di perjalanan menuju pulau Syahrir

 

 

 

 

Pulau syahrir
Pulau syahrir

kami berkali kali naik dan turun snorkling disini sampai sore, karena rencannya mau melihat sunset  di tempat ini

Mahdi awak kapal menemani kami snorkling di pulau syahrir sampai ketengah.

4

 

Mahdi yang belajar memakai gogle dari turis asing
Mahdi yang belajar memakai gogle dari turis asing

Karena suasana sore mendung kami memutuskan tidak menunggu sunset, dan kembali ke penginapan

Malam kami makan di tempat Abba  Mutira Guesthouse, enak makan disini  ala buffet, untuk

lokal dikenakan 6o ribu  tapi makanannya benar-benar menggunakan bumbu terkenal lokal

seperti pala dan lada juga cengkih,  salah satu favorit saya sup bakso ikan rasa daging ayam hahaha,

sangking piawainya beliau meramu bumbu ikan kami kira ayam; Abba juga menyediakan trip ke pulau Rhun

akhirnya kami putuskan untuk ke pulau Rhun Lusa hari ke 4, Besok hari ke 3 kami rencana ke Pulau Lonthoir dan Banda Besar

Info Penginapan di Maulana Resort : 0819 450 515 26  atau 0910 21022/21024 PIC nya Pak DEDE   Harga kamar standard 300 ribuan kalau kamar bekas lady di agak sedikit mahal

Info Penginapan Mutiara – http://www.banda-mutira.com atau FB : Banda Mutiara  PIC : Abba  telp 081330343377

Singkat cerita , kepulauan Banda dan pulau-pulau sekitarnya ini memang penuh dengan sejarah, apabila senang dengan budaya dan daerah-daerah historis pasti senang melihat banda

cerita-cerita seperti Pulau Rhun yang ditukar dengan pulau Manhattan di Inggris sana  oleh Belanda sangat memukau, begitu berharganya pulau itu dizaman penjajah

tapi sekarang keadaannya tidak terlalu terawat, taraf hidup penduduknya pun sangat menyedihkan. apalagi anak-anak disana pendidikan nya sangat tidak terjamin.

 

rhun2 rhun1 rhun3 rhun4

Hari terakhir kami dijemput oleh kapal Tidar, berangkat jam 9 pagi dan sampai di Ambon sore hari jam 5 sore, langsung dijemput pak wempi kembali menginap sehari di hotel untuk

besok siangnya hari sabtu kami ke Pulau KEI Kecil naik Wings Air ; ada 2 kali penerbangan menuju Bandara Langgur di kota Tual  pagi dan sore.  lama penerbangan 1,5 jam harganya berkisar 2,5 jt PP

kami hanya punya waktu 2 hari full day di pulau ini sehingga harus bisa memanfaatkan waktu

 

Bandara-Langgur
Bandara Langgur baru dibuat jadi bersih dan bangunan nya lumayan modern

Ternyata keadaan kota Tual itu lebih modern dan ramai dibanding bandanaira, suasananya sudah seperti kota besar Ambon, di Tual ada satu supermarket yang isinya selengkap

Superindo atau giant.  Penduduk bilang John Kei  dan teman-temannya yang merantau ke jakarta yang kita kenal sebagai preman itu ikut membangun kota ini hingga seperti ini,

sayangnya memang kotanya jadi terkotak-kotak berdasarkan agama, Langgur tempat orang beragama kristen, Tual lebih banyak berpenghuni muslim. Mereka sangat segan untuk

mengunjungi daaerah yang tidak seiman ; sepreti apabila kita ingin mengunjungi gereja atau tempat wisata lain di daerah kristen alangkah baiknya membawa driver atau pun pemandu yang Kristen

demikian sebaliknya.  Tadinya kota ini aman mereka saling hidup bertoleransi, tapi kembali akibat dari pengaruh luar yang memprovokasi dampak kerusuhan agama disini agak sedikit berlarut-larut

4

Kami mengunjungi  Gua Hawang di desa Letvuan Langgur tempatnya sangat mistis dan airnya jernih sekali, tapi karena tidak memungkinkan untuk berganti baju, kami tidak berenang disini

buku untuk anak-anak sangat dibutuhkan
buku untuk anak-anak sangat dibutuhkan

Di Desa ini  ada perpustakaan hasil dari KKN mahasiswa UGM, Uli teman kami membawa buku-buku  bacaan untuk anak-anak untuk disumbangkan ke perpustakaan.

Pantai Ngurbloat pasir panjang
Pantai Ngurbloat pasir panjang

Dari sini kami menuju desa  Ngilngof terletak disebelah barat laut Kepulauan Kei Kecil,  Desa ini terkenal dengan pantainya yang putih  seperti  tepung,   Sampai di situ kami sudah cukup sore jam setengah 6 dan matahari masih terlihat bersinar hendak menuju kebalik laut;  Pantai suasananya sepi,  Penduduk disitu mendekati kami memamerkan hasil photo sunset nya .

 

Sunset di pantai desa Ngilngof
Sunset di pantai desa Ngilngof

Memang sunset disini tiada duanya, sambil jalan menyelusuri pantai putih dengan kaki telanjang menikmati pasir pantai ini yang halus, mata kami tertuju kepada  matahari tenggelam  yang menjadi background kapal-kapal nelayan diatas air lautnya menjadi bentuk-bentuk siluet indah. 

IMG_4276

Makin tenggelam matahari di ujung horizon makin indah cahaya berpendar. Saya dan teman-teman terduduk di pantai ini sambil menyaksikan pemandangan super indah.  Sinar matahari berubah seperti lampu panggung gemerlap warnanya.   Tanpa sadar airmata saya meleleh melihat keindahan itu ( jadi lebay banget )  How Great Thou Art,  I wish you were here,  It’ s a wonderful world  semua quote-quote Indah langsung muncul di benak campur aduk.

Setelah agak gelap dan matahari tenggelam, muncul bintang-bintang di langit bersih di atas kami ..huaaaaaa jadi pengen gandengan sayang gak  ada yang pantes di gandeng…-:)

Pemandu kami  2  pemuda lokal  Milo  (namanya Emir ) dan Mito (nah ini lupa nama aslinya )  beserta dengan seorang  mahasiswa dari UGM Pasca Sarjana Antropologi  Mas Sahrul. yang sedang melakukan penelitian di daerah Kei mengingatkan kami untuk menuju penginapan kami.

Nama Penginapan kami adalah ohoiew island country resort harga penginapan  Rp.350.000 permalam  letaknya di seberang desa Ngilgof, harus naik kapal speed boat  sekitar sepuluh menitan. Harga kamar akan naik di bulan Oktober 2014,  Untuk pesan kamar ataupun sekalian makanan harus menghubungi pengelola pulau di 085 254 303 031 dengan Patris

Karena hari sudah super gelap dan air agak surut maka kami berjalan agak sedikit ke arah laut, gelap-gelapan hanya diterangi sinar bulan dan bintang-bintang naik ke atas kapal boat kami.  

 Sampai di pulau tidak terlihat apapun gelap, dan lelah sekali kami langsung memilih kamar dan mandi (tersedia listrik, AC, dan Shower ): Namun harus diingat karena tidak ada penduduk dipulau ini, apabila ingin disediakan makan harus melakukan pemesanan terlebih dahulu kepada pengelola, kalau tidak ya tangkap ikan sendiri di laut dan bakar sendiri .

7