THE CITY OF BEAUTY

Setelah mengunjungi Maluku Utara, dan melihat keindahan Ternate maka  cita-cita ingin menginjak kan kaki ke kota Ambon Ibukota Maluku ; kebetulan seorang teman bekerja di sebuah perusahaan yang mempunyai cabang di Ambon  dan Transportasi  dijamin deh katanya.

Liburan Idul Adha adalah waktu yang cocok, berangkat Jumat dini hari pukul 00.00 dari Jakarta, transit di Makasar dan sampai di Bandara Pattimura Ambon pukul 7 pagi

Penerbangan tidak selama itu karena ada perbedaan waktu WIB – WIT  2 jam lebih maju

Bandara sangat kecil, landasan pacu nya pun di sebelah jalan raya. Posisi Bandara Patimura di ujung  utara kepulauan Maluku sedangkan penginapan yang sudah di booking oleh teman di ambon di daerah Latuhalat  – 15 km dari kota ambon ; makan waktu 2 jam pakai mampir.

Hotel terletak di tepi pantai latuhalat ; kami sampai jam 13.45 pas dengan waktu check in

Sayang nya hujan langsung turun; langit yang tadinya biru ; langsung berubah suram

Akhirnya kami ke pantai – pantai sekitar latuhalat seperti pantai namalatu ; kami menuju ke desa Waai; karena hujan perjalanan agak licin dan kirikanan  laut terlihat claudy ; sepanjang pantai karena hari libur banyak juga remaja-remaja berkumpul nongkrong2 melihat pantai.

Sampai di desa WAI kecamatan Salahutu kami melihat Morea ; belut raksasa yang terkenal itu . Tempatnya agak kurang meyakinkan karena sore hari melewati beberapa rumah penduduk lalu ibu-ibu yang lagi cuci baju di kali ; lalu datang pawang membawa telur memanggil belut yang bersembunyi di lobang2 bebatuan di kali tepatnya sungai yang sudah di tembok kiri kanannya.

Tak Lama keluarlah Belut Raksasa a.k.a Morea dengan kepala gepeng seperti ikan dan badan panjang seperti belut ; karena bentuknya tidak seperti ular; saya tidak takut untuk memegang dan turun ke sunga

i bersama sang pawang; rasanya licin dan tak bersisik

Setelah dari desa Wai kami dibawa kepinggir pantai natsepa sambil makan rujak pantai tersebut yang terkenal; bagi penggemar rujak mungkin rasanya biasa saaa..!!. ( dialek ambon)

Akhirnya karena mati gaya hujan dan kawan-kawannya tak mau berenti kami kembali ke hotel collins tempat kami menginap dan ngobrol2  sambil menatap kegelapan di pantai latuhalat ; teman saya yang nama top nya madam JW dibawakan minuman khas berakohol bernama Sopi. Konon kadar alkoholnya sampai 50 % saya coba cicip rasanya lebih keras dari versi di pesta rakyat di Jailolo Maluku utara.

Tidur jadi enak; pagi hari sabtu saya dan madam JW kesiangan; dan lewatlah sunrise

Dijemput oleh Berly ( nama orang Ambon bagus-bagus karena pengaruh portugis dan belanda yang sempat lama menjajah daerah ini di jaman dahulu kala)

Langsung menuju Pintu Kota , lokasinya bukan di kota tapi di pantai ; berupa karang yang bolong tengahnya menyerupai pintu ;  view nya unik sekali ;

Tan1

Sayang nya seperti di tempat-tempat wisata lain di Indonesia tempatnya agak banyak sampah ;

lalu kami menyusuri pantai menuju ke kota (Ambon)  sampai di lokasi Batu Capeu ( batu karang berbentuk topi ). Kebetulan air surut sehingga kami bisa photo dibawah batu capeu tanpa kena air laut.

Di bukit daerah Karang Panjang ; akhirnya sore itu kami ke sana dan mendapat kan spot yang indah ; dengan langit oranye khas sunset di daerah Timur Indonesia.

kami menuju ke Monumen Gong Perdamaian; Lambang perdaonal Gong dikelilingi oleh hampir 200 bendera negara-negara di dunia dan lambang agama-agama di dunia. Terletak di pusat kota Ambon tepatnya di taman Pelita ; besebrangan dengan lokasi Patung Patimmura.

 

Gong Perdamaian
Gong Perdamaian